Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) secara resmi menyatakan dukungannya terhadap rencana boikot yang diusulkan UEFA dan CONCACAF terhadap proposal FIFA mengenai format Piala Dunia mendatang. Langkah ini menandai meningkatnya ketegangan antara badan pengatur sepak bola dunia dengan sejumlah konfederasi utama.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis baru-baru ini, AFC menegaskan bahwa mereka sejalan dengan kekhawatiran Eropa dan Amerika Utara mengenai rencana perluasan jumlah peserta serta jadwal yang diusulkan FIFA. Mereka menilai proposal tersebut berpotensi mengganggu keseimbangan kompetisi dan kesejahteraan pemain.
UEFA dan CONCACAF sebelumnya telah mengancam akan memboikot turnamen jika FIFA tidak merevisi rencana tersebut. AFC kini memperkuat posisi tersebut dengan menyatakan bahwa setiap perubahan besar harus melalui konsultasi yang lebih luas dengan seluruh pemangku kepentingan.
Latar belakang ketegangan ini berakar dari upaya FIFA untuk memperluas Piala Dunia menjadi 48 tim mulai 2026. Beberapa konfederasi khawatir bahwa format baru akan mengurangi kualitas pertandingan dan meningkatkan beban perjalanan bagi tim dari luar Eropa.
Dampak potensial dari boikot ini bisa sangat signifikan terhadap legitimasi turnamen, terutama jika beberapa konfederasi besar memutuskan untuk tidak berpartisipasi. Hal ini juga dapat memengaruhi hubungan jangka panjang antara FIFA dan anggota-anggotanya.
Selain itu, isu komersial menjadi salah satu poin penting yang belum dibahas secara terbuka. Proposal FIFA dinilai terlalu berfokus pada peningkatan pendapatan tanpa mempertimbangkan aspek olahraga secara menyeluruh.
Para pengamat menilai bahwa negosiasi yang sedang berlangsung akan menentukan arah masa depan Piala Dunia. Jika kesepakatan tidak tercapai, risiko fragmentasi dalam tata kelola sepak bola global menjadi semakin nyata.
Hingga saat ini, FIFA belum memberikan tanggapan resmi terhadap pernyataan AFC. Semua pihak masih menunggu perkembangan selanjutnya dari diskusi yang sedang berlangsung.






