Presiden Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menegaskan kembali penolakannya terhadap rencana FIFA yang dinilai berpotensi mengubah struktur tata kelola sepak bola internasional. Dalam pernyataannya, ia menyebut rencana tersebut tidak dapat diterima karena berisiko melemahkan peran konfederasi benua.
Rencana FIFA yang dimaksud melibatkan upaya menjual sebagian kepemilikan atas Piala Dunia kepada investor swasta. Langkah ini diklaim bertujuan meningkatkan pendapatan, namun menuai kritik dari berbagai pihak yang khawatir akan dampaknya terhadap distribusi keuntungan dan otonomi regional.
Struktur sepak bola global saat ini mengandalkan konfederasi benua seperti AFC, CAF, CONCACAF, CONMEBOL, OFC, dan UEFA untuk mengelola kompetisi serta kualifikasi di tingkat regional. Setiap konfederasi memiliki hak suara dalam kongres FIFA dan berperan penting dalam pengembangan olahraga di wilayah masing-masing.
Penjualan saham Piala Dunia berpotensi menggeser keseimbangan kekuasaan ini. Jika investor eksternal memperoleh pengaruh signifikan, keputusan strategis mungkin lebih banyak ditentukan oleh pertimbangan komersial daripada kepentingan pengembangan jangka panjang di setiap benua.
Salah satu analisis yang muncul adalah risiko berkurangnya dana yang dialokasikan untuk program pengembangan di Asia dan Afrika. Selama ini, pendapatan dari Piala Dunia sebagian digunakan untuk membiayai infrastruktur, pelatihan wasit, serta kompetisi pemuda di negara-negara anggota AFC yang masih membutuhkan dukungan finansial.
Analisis lain menyoroti aspek tata kelola. Model penjualan saham dapat membuka pintu bagi pengaruh pihak ketiga yang tidak memiliki akuntabilitas langsung kepada federasi nasional. Hal ini berbeda dengan sistem saat ini yang menempatkan kongres FIFA sebagai forum utama pengambilan keputusan.
Respons dari AFC menunjukkan kekhawatiran bersama di antara beberapa konfederasi lain. Mereka khawatir perubahan ini akan mengurangi peran mereka dalam menentukan format turnamen serta alokasi slot kualifikasi.
Hingga saat ini, FIFA belum memberikan penjelasan rinci mengenai mekanisme penjualan yang direncanakan. Namun, penolakan dari AFC menandakan bahwa diskusi internal di tubuh organisasi sepak bola dunia masih jauh dari selesai.






